Mobil Tesla Ngebut 140km/jam Tanpa Pengemudi, Fitur Autopilot pada mobil Justru Berbahaya ?

Jika kita mengingat kembali di tahun 90an atau bahkan 2000an, kepopuleran kendaraan roda 4 terjadi di berbagai macam kalangan usia. Ada banyak sekali pemilik mobil yang menggunakan kendaraan mereka untuk bepergian bersama, menikmati momen saat berkendara merupakan salah satu momen tersendiri.

Di saat itu, kita mungkin tidak akan pernah sampai kepikiran untuk melepaskan pandangan dari jalan ketika mengemudi, apalagi sampai tertidur. Sudah banyak kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk, tentu kita tidak mau menjadi salah satunya.

Mobil di era 2000an

Sudah sejak 5 tahun belakangan ini muncul banyak sekali mobil dengan fitur driver assist yang memungkinkan pengemudi untuk bisa melepaskan kemudi dengan rentan waktu tertentu, dimana roda kemudi akan dikendalikan oleh mobil itu sendiri dengan protokol tertentu.

Fitur driving assist ini ditujukan untuk menghindari kelalaian pengendara apabila mobil melaju terlalu cepat, atau mobil tanpa sengala melewati garis pembatas jalan dan berbagai macam alasan keamanan lainya.

Semakin banyak mobil yang memiliki fitur ini, dan semakin banyak orang mulai menggunakannya. Namun justru fitur ini dimanfaatkan dengan cara yang salah oleh pengemudi itu sendiri.

Contohnya seperti kejadian di Alberta, Kanada pada bulan Juli 2020 lalu, di mana seorang pengemudi ditangkap karena sedang terlelap ketika mobil melaju melebihi kecepatan maksimal dengan fitur driver assist yang menyala.

Bagaimana kronologi kejadianya, berikut selengkapnya.

Pengemudi Tesla Tertidur dengan Keadaan Mobil Melaju 140km/jam

Pada bulan Juli lalu, beberapa polisi mengaku terkejut ketika mereka mendapati sebuah mobil yang tampak kosong tanpa pengemudi tengah melaju melewati batas kecepatan maksimal di jalanan Propinsi Alberta.

Mobil tersebut dengan kecepatan 140 km/jam. Anehnya, ketika mobil patroli mencoba mengejar dan menyalakan lampu emergensi, mobil ini justru menaikkan kecepatan menjadi 1580m/jam.

Setelah diberhentikan, rupanya mobil tersebut berada dalam mode Autopilot sementara pengemudi dan satu penumpangnya sedang tertidur dengan kursi dalam posisi rebah.

Serjen Darrin Tunbull, salah seorang polisi yang bertugas, menginformasikan pada CBC News bahwa mobil Tesla ini terihat kosong, tidak tampak ada orang di dalamnya. Setelah dipaksa berhenti oleh pihak berwenang, rupanya pengendara mobil ini sedang tidur dengan kursi yang direbahkan, demikian pula penumpang mobil yang bersamanya.

Pengemudi yang merupakan seorang mahasiswa British Columbia berusia 20 tahun tersebut kemudian didakwa dengan pasal pelanggaran batas kecepatan. SIMnya juga ditahan selama 24 jam sebagai sanksi karena berkendara saat dalam keadaan mengantuk. – electrek.co

Kejadian ini bukan kejadian satu-satunya Tesla dikemudikan tanpa adanya perhatian sama sekali. Pada awal September lalu, beredar sebuah video di platform TikTok yang menunjukkan 4 pemuda sedang basik bernyanyi dan minum-minum sementara mobil mereka berada dalam kondisi Autopilot melaju dengan kecepatan 60mph (96km/jam). dailymail.co.uk

Sebenarnya Aman Gak Sih Fitur Driving Assist?

Fitur Autonomus pada mobil aman atau tidak?

Fitur drive assist mempunyai banyak nama sesuai dengan pembuatnya atau perusahaan pemilik brand kendaraan masing-masing. Beberapa di antaranya yaitu istilah Autopilot untuk mobil Tesla, Traffic Jam Assist untuk Audi dan Accura, Semi-Autonomus Driving Assistant Plus untuk BMW dan Mercedez-Benz, dan ProPilot Assist untuk Nissan.

Walau demikian, fitur ini sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu meningkatkan keamanan berkendara untuk para pengemudi dalam mengendarai mobil.

Fitur ini sendiri memiliki beberapa tingkatan untuk seberapa besar fitur ini mengambil alih kemudi kendaraan.

  • Level 0 – Tanpa Otomatisasi Kendali

Mayoritas mobil mainstream yang telah ada sekarang termasuk dalam level 0. Tugas berkendara sepenuhnya berada di balik pengemudi. Otomatisasi di level ini lebih mengarah kepada dukungan ekstra dalam mengemudi. Hal ini terbatas pada pemberian peringatan dan dukungan mengemudi temporer.

Bahkan fitur inisitif menghentikan mobil yang terdeteksi dalam risiko celaka masih merupakan level 0. Contoh fitur ini bisa kita temui di Mercedes Benz C180 Avantgarde yang memiliki Automatic Emergency Braking (AEB).

  • Level 1 – Driving assistance

Di level ini, mobil bisa mengendalika dinamikan gas dan rem pada gerakan lurus atau setir pada gerakan menyamping jika dibutuhkan. Namun kedua fungsi tidak bisa dijalankan bersamaan.

Dua contoh fitur dalam level 1 adalah Lane Keeping Assist dan Adaptive Cruise Control. Lane Keeping Assist berfungsi untuk mengarahkan setir ketika terdapat perpindahan jalur yang tidak terduga.

Di sisi lain, Adaptive Cruise Control bisa mengendalikan gas dan rem sesuai laju kendaraan di depan mobil kita. Fitur-fitur ini sudah bisa ditemui pada mobil-mobil kelas menengah. Sebagai contoh Mazda dalam paket keselamatan i-Activesense generasi baru terdapat Mazda Radar Cruise Control (MRCC) da nLAne-keep Assist System (LAS).

Truk-truk besar eropa seperti SCANIA, Volvo, Mercedez Actros, MAN, dan juga DAF juga memakai fitur Cruise Control dan Lane-Keep Assist.

  • Level 2 – Partial driving automation

Pada level ini, kendaraan bisa mengendalikan setir dan pengurangan/penambahan laju kendaraan. Pengemudi harus memegang kemudi secara berkala agar fitur ini tetap berjalan. Semua kendaraan dengan klaim memiliki sistem self-driving assistance berada di level ini, termasuk Tesla.

Pada hal ini, sistem Autopilot milik Tesla telah melebihi para pesaingnya, hanya saja pemerintah AS masih belum mengakui teknologi Autopilot Tesla telah menyentuh taraf selanjutnya.

Walau demikian, masih banyak pengguna Tesla yang tetap tidak menghiraukan kondisi sekitar. Hal ini bisa berakibat fatal jika terdapat kondisi yang sama sekali tidak terduga.

  • Level 3 – conditional driving automation

Level 3-4 adalah tingkatan teratas self-driving assist yang dikategorikan sebagai Automated Driving System (ADS). Sistem ini bukan hanya bisa menjalankan kendaraan dan mengatur arah, namun juga bisa mengambil keputusan tergantung pada situasi sekitar.

  • Level 4 – high driving automation

Perbedaan mencolok antara level 3 dan level 4 adalah bahwa pada level 4 kendaraan mempunyai respons jika terjadi kesalahan atau kegagalan pada sistem. Kendaraan pada level ini sudah bisa berjalan sendiri, namun terbatas pada area urban/kota. Namun pengguna masih bisa mengambil alih jika memang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

  • Level 5 – full driving automation

Pada level ini, kendaraan sudah tidak memerlukan setir lagi untuk mengendalikan arah. Rem dan pedal akselerasi juga tereliminasi. Mobil-mobil ini bebas dari geofencing (batasan area/wilayah) sehingga bisa pergi ke mana saja dan melakukan apapun yang manusia bisa lakukan ketika mengemudi.

Mengetahui spesifikasi mobil secara penuh akan sangat membantu pengemudi jika ingin menggunakan fitur automasi yang ada. Pengemudi harus tau tingkatan level berapa mobil bisa mengambil kendali.

Pengaruh Perkembangan Teknologi pada Kendaraan

Tesla Model S Instrument
Tesla Model S Instrument
Volvo Truck Instrument
Volvo Truck Instrument

Berdasarkan National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) AS, terjadi kurang lebih 5,5 juta kecelakaan di AS. Yang lebih gila lagi, sekitar 83% dari 5,5 juta kecelakaan tersebut disebabkan oleh kelalaian manusia. fars.nhsta.dot.gov

Sebagai pengemudi, fokus kita sering kali terganggu bahkan ketika kita sedang melakukan hal yang butuh perhatian penuh seperti mengemudikan kendaraan. Kita bisa saja mengantuk karena kelelahan, teralihkan oleh panggilan telepon penting, atau mungkin kita melepaskan pandangan ke jalan untuk berbincang dengan pengemudi yang lain.

Nah, dengan fakta demikian, jelas self-driving assist akan sangat membantu kehidupan kita. Tak seperti manusia yang sering salah nih gan, komputer tidak akan terganggu oleh dering telepon, obrolan penumpang, atau radio.

Ketika level 5 atau mobil autonomus sudah diluncurkan, keamanan akan jauh lebih terjaga lagi. Ketika mabuk, orang tidak perlu lagi memaksakan diri untuk menyetir atau memanggil sopir. Orang-orang dengan disabilitas atau orang yang sudah berumur juga bisa dengan mudah bepergian kemana saja tanpa harus mengandalkan orang lain.

Namun tentu saja di balik kemudahan dan kejayaan mobil autonomus, terdapat sisi kurangnya juga. Mobil autonomus memang bisa self-driving, namun pengguna juga harus memahami standar keselamatan mobil itu sendiri.

Seperti kejadian di Alberta di atas, protokol menyarankan untuk menyetel Autopilot dengan kecepatan 60mph, namun tetap saja pengemudi Tesla tersebut berkendara di atas kecepatan tersebut. Tentu saja pengguna ini diberi sanksi.

Selain itu, mobil autonomus sangat bergantung pada komputer, sehingga terdapat kemungkinan besar akan bermunculan hackers yang bisa memanfaatkan kelemahan tersebut.

Apakah cocok di Indonesia?

Presiden Jokowi mendukung penuh adanya mobil listrik dan bahkan sudah menginstall beberapa fast-charging site di Jakarta. Di indonesia sendiri, Tesla baru disediakan oleh Prestige Motor.

Tapi, apakah cocok Indonesia dengan mobil self-driving assist atau autonomus?

Full Screen Instrument Tesla Electric Cars

Kalau mobil dengan self-driving assist mungkin masih bisa digunakan di jalanan Indonesia. Karena banyaknya jalan terjal dan kondisi-kondisi yang tidak terduga, tentu kita masih membutuhkan setir dan rem. Tapi beda lagi dengan mobil autonomus.

Mobil autonomus seperti yang telah dijelaskan di atas adalah mobil dengan driving assist dimulai dari angka 3. Pun demikian, mobil dengan level 3 dan 4 hanya cocok digunakan di wilayah urban yang jalanannya mulus dan tidak banyak lubang-lubang atau jalan terjal.

Balum lagi mobil-mobil ini membutuhkan internet untuk berjalan sendiri dengan mengandalkan maps online. Kalau agan tinggalnya tidak di kota, sepertinya akan sulit mengemudikan ini.

Kalau level 5?

Mungkin bisa. Tapi kembali lagi gan, mobil level 5 mungkin baru akan siap dalam 2 tahun ke depan. Elon Musk dari Tesla telah mengumumkan bahwa Tesla akan berhasil membuat level 5 sebelum tahun 2020 berakhir, namun tentu saja belum siap untuk didistribusikan di jalanan. Kita tetap harus menanti, gan!

Terlepas dari itu, jalanan kota di Indonesia masih belum terbilang tertib. Pelanggaran lalu lintas serta tingkat kesabaran pengemudi, macet menjadi salah satu alasan mobil autonomus menjadi sulit menjalankan fungsinya dengan baik.

Garis pembatas jalan di berbagai macam daerah perkotaan pun juga belum semua ada. Sehingga jika dilihat secara logika, akan sangat minim sekali kesempatan untuk menggunakan fitur autonomus pada mobil.

Paling tidak untuk pengendara yang sedang melakukan perjalanan jauh melewati tol, fitur autonomus ini baru akan bisa dirasakan oleh pengendara.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *